Rabu, 15 Juli 2009

Boneka buat Ana

Mata Ana hampir tak berkedip memandang boneka kelinci merah jambu di etalase toko mainan di sudut jalan yang biasa dilewati Dewi. Ana baru tersentak ketika sesosok tubuh yang lebih besar darinya menubruknya dari sisi badannya. Ana menoleh pada wajah masam sipemilik tubuh yang menabrak dirinya. Dewi melemparkan pandangan tak bersahabat pada Ana, sejurus kemudian meluncur deras kata-kata dari mulutnya. "Eh, berdiri ditengah jalan, ganggu orang aja, emang jalanan ini punya nenek moyang kamu!"teriak Dewi. Ana cuma tertegun tanpa bisa berkata apapun dan segera berlalu dari jalan tadi.
Ana tidak terlalu memikirkan peristiwa tersebut, baginya dimaki-maki orang adalah biasa sudah menjadi makanan sehari-hari yang harus ia terima. Itu adalah konsekuensi yang harus dihadapi seorang gelandangan sepertinya. Sejak kecil Ana tak pernah tahu orang tuanya, ia hanya mengenal mbok Sumi perempuan tua yang mengasuhnya sejak bayi. Mbok Sumi sangat menyayangi Ana tapi mbok Sumi hanyalah seorang gelandangan yang sehari-hari memunguti butiran-butiran beras yang tercecer dari karungnya di sebuah pasar tradisional. Jika beras yang didapat cukup banyak maka mbok Sumi bisa menjualnya lagi dan sisanya untuk dimakan bersama Ana. Sedangkan Ana adalah seorang pengamen cilik yang menjual suaranya dan mengharap belas kasih agar ada yang memberinya uang. (bersambung)

Tidak ada komentar: